Pencegahan Korupsi Sejak Dini, Busyro Muqoddas Tekankan Pentingnya Rezeki Halal dan Pendidikan Karakter

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa memberikan nafkah yang halal dan baik kepada keluarga. Langkah dasar ini dinilai menjadi fondasi utama dalam mencegah lahirnya perilaku koruptif sejak lingkungan terkecil.
Pesan tersebut disampaikan Busyro dalam agenda Gerakan Subuh Mengaji (GSM) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat dan disiarkan melalui TVMU. Kegiatan yang mengusung tema “Didik Anak Jujur, Bangun Ekonomi Umat yang Mandiri” ini menyoroti besarnya tantangan yang dihadapi para pejabat publik terhadap bujuk rayu korupsi yang kian mengkhawatirkan.
Busyro menilai, fenomena korupsi di Indonesia telah menjadi 'lingkaran setan' yang kerap berakar dari kebiasaan di dalam keluarga, khususnya dalam hal mencari rezeki dengan menghalalkan segala cara tanpa memedulikan batasan agama.
Ia juga membeberkan realita bahwa mayoritas pelaku tindak pidana korupsi di tanah air sebenarnya merupakan individu dengan latar belakang pendidikan yang tinggi, mulai dari jenjang strata satu (S1), strata dua (S2), hingga strata tiga (S3).
Melihat fenomena tersebut, Busyro mendorong adanya pembaruan kebijakan dalam dunia pendidikan nasional. Menurutnya, pendidikan sejak usia dini harus lebih menekankan pada penanaman nilai-nilai kejujuran kepada anak-anak.
Merujuk pada keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta tahun 2022, Busyro mengingatkan kembali pentingnya konsep kedaulatan keluarga sebagai upaya membangun ketahanan keluarga yang tangguh di tengah berbagai dinamika zaman.
Di sisi lain, ia juga menyinggung angka perceraian yang terus meningkat, yang dinilainya memiliki keterkaitan erat dengan maraknya kasus pinjaman online (pinjol). Mengenai hal ini, Busyro mendorong organisasi 'Aisyiyah untuk hadir memberikan solusi nyata melalui sinergi bersama Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA).
“Perguruan tinggi itu tugasnya bukan hanya mencetak orang-orang pintar, diwisuda selesai sama sekali. Perguruan tinggi itu menjadi tempat pendidikan pemimpin berbasis akhlak dan ilmu. Itu pendidikan tinggi,” tegas Busyro.
Ia berharap keberadaan PTMA dapat menjadi oase di tengah krisis karakter kepemimpinan di Indonesia. PTMA dituntut untuk terus mendidik manusia yang jujur dan sederhana, sehingga ketika dipercaya memangku jabatan publik, mereka memiliki integritas kuat untuk tidak melakukan korupsi.
