MPKSDI PP Muhammadiyah: Kader Harus Kokoh dalam Beragama dan Adaptif Menghadapi Zaman

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Kader Muhammadiyah dituntut untuk memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus bersikap adaptif terhadap perkembangan zaman. Kedua prinsip tersebut harus berjalan seiring dan menjadi bagian tak terpisahkan dalam diri setiap kader.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, dalam program Ruang Publik TVMU pada Sabtu (3/10).
Pria yang akrab disapa Gus Bach ini menegaskan bahwa mengintegrasikan penguatan akidah dengan kepekaan terhadap kemajuan zaman merupakan karakter mendasar dari kader Muhammadiyah. Muhammadiyah sendiri selalu menanamkan pandangan hidup yang tidak memisahkan antara urusan dunia dan akhirat.
“Sehingga secara akidah kokoh, keislaman kuat, bagus, tapi urusan keduniaannya juga tidak berantakan, bahkan melampaui daya hadap zamannya,” ujar Gus Bach.
Untuk membentuk kader yang seimbang antara pemahaman agama dan kesiapan menghadapi dunia, Muhammadiyah menjalankan sistem kaderisasi berjenjang. Pembentukan ini dilakukan melalui jalur formal seperti Darul Arqam, Baitul Arqam, dan Taruna Melati.
Selain pelatihan formal di dalam kelas, proses pengkaderan juga berlangsung dalam kehidupan sehari-hari melalui keterlibatan aktif dalam berbagai aktivitas persyarikatan, atau yang dikenal dengan istilah living Baitul Arqam.
Menurut Gus Bach, pengkaderan formal di kelas bertujuan memberikan pemahaman Kemuhammadiyahan yang terstruktur, komprehensif, dan sistematis. Pengetahuan yang diperoleh tersebut kemudian harus disempurnakan melalui aksi dan peran nyata di masyarakat.
Ia menekankan pentingnya kaderisasi formal agar pemahaman kader terhadap nilai-nilai organisasi tidak terfragmentasi.
“Bisa jadi bacaan-bacaannya kurang terarah, sehingga mendapatkannya sporadis, atau pun hanya sebagian saja sehingga nanti tidak utuh,” jelasnya.
