Menilai Karya Kontroversial Tentang Nabi Muhammad, Ayub: Perlu Lihat Tujuan dan Sasaran Kritik

BATURMU.COM, LEIDEN — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ayub, menekankan pentingnya memahami tujuan mendasar di balik hadirnya sebuah karya seni atau buku kontroversial yang mengangkat sosok Nabi Muhammad. Menurutnya, motivasi pembuat karya perlu dipetakan secara jelas, apakah murni ekspresi seni, bentuk kritik sosial, atau kritik terhadap agama Islam itu sendiri.
Hal tersebut disampaikan oleh Ayub, yang saat ini tengah menempuh studi doktoral di Universitas Leiden, Belanda, saat memaparkan pandangannya pada Senin (28/9).
Ayub menjelaskan, jika suatu karya lahir sebatas sebagai bentuk ekspresi seni, maka penolakan atau rasa marah dari sebagian kelompok masyarakat merupakan respons yang sah dan wajar. Sebuah karya seni tidak pernah menuntut penerimaan yang seragam dari penikmatnya. Oleh karena itu, menghargai kebebasan berekspresi juga berarti harus mengakui hak publik untuk memberikan reaksi yang beragam.
"Jika hanya sebagai ekspresi seni, maka reaksi marah dari sebagian orang juga merupakan respons yang valid terhadap karya tersebut," ujar Ayub.
Ia menilai, sikap yang seolah menuntut masyarakat untuk selalu menerima atau sekadar memberikan apresiasi justru berpotensi mengabaikan keragaman pandangan yang ada di tengah publik.
Sementara itu, jika karya tersebut dimaksudkan sebagai wahana kritik sosial, Ayub mempertanyakan relevansi penggunaan sosok Nabi Muhammad sebagai mediumnya. Langkah semacam itu dinilai berisiko menjauhkan pesan kritik dari masyarakat yang sebenarnya paling berdampak pada isu sosial yang sedang disuarakan.
Ia mencontohkan masyarakat Muslim dari kalangan menengah ke bawah, di mana rasa cinta kepada Nabi Muhammad menjadi salah satu nilai emosional dan spiritual yang paling berharga dalam hidup mereka.
"Jika bertujuan untuk kritik sosial, mengapa harus membawa-bawa Nabi Muhammad?" tuturnya.
Menurut Ayub, kritik sosial akan jauh lebih efektif dan tepat sasaran apabila diarahkan langsung kepada pihak atau akar masalah yang menjadi sumber persoalan. Jika memang tokoh-tokoh agama terlibat dalam masalah tersebut, maka kritik sebaiknya ditujukan langsung kepada individu bersangkutan tanpa perlu menjadikan simbol keagamaan yang sensitif sebagai sasaran.
Lebih lanjut, Ayub juga menyoroti perbedaan antara mengkritik perilaku umat Islam dan mengkritik ajaran Islam itu sendiri. Apabila tujuan utamanya memang ingin mengkritik Islam secara doktrinal, ia menyarankan agar hal tersebut disampaikan secara terbuka dan terus terang.
"Jika memang tujuannya adalah mengkritik Islam itu sendiri, lebih baik disampaikan secara jujur," tegasnya.
Ia menambahkan, menyamarkan kritik ajaran Islam seolah-olah hanya kritik terhadap perilaku sebagian umat justru memicu persoalan baru. Cara tersebut tetap berpotensi menimbulkan penolakan kuat dari umat Islam, terutama ketika karya tersebut menyentuh figur atau simbol yang memiliki kedudukan paling mulia dalam keyakinan mereka.
