Kabar Persyarikatan

Meneladani Kepemimpinan Nabi, Muhammadiyah Tegaskan Pentingnya Musyawarah dan Keterbukaan

Redaksi Baturmu
25 Oktober 20264 Menit
Meneladani Kepemimpinan Nabi, Muhammadiyah Tegaskan Pentingnya Musyawarah dan Keterbukaan

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam memimpin umat hendaknya diwujudkan melalui kesediaan bermusyawarah, keterbukaan dalam menerima perbedaan pendapat, serta gaya kepemimpinan kolektif yang melibatkan banyak pihak. Kepemimpinan yang aktif berdakwah namun enggan menerima masukan dinilai belum mencerminkan keteladanan Nabi secara utuh.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Talqis Nurdianto, dalam kajian yang berlangsung di Masjid KH Sudja Yogyakarta pada Kamis (22/10).

Dalam pemaparannya, Talqis menjelaskan bahwa meneladani Rasulullah merupakan kewajiban bagi setiap umat Islam. Mengutip Surah Ali Imran ayat 31, ia menegaskan bahwa bukti rasa cinta kepada Allah SWT ditunjukkan dengan cara mengikuti petunjuk Rasulullah. Prinsip ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan personal, tetapi juga wajib diterapkan dalam tata kelola kepemimpinan organisasi.

Talqis juga menyoroti pentingnya musyawarah sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 159, wa syāwirhum fil-amr, yang berarti bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.

“Apakah seorang pemimpin sudah meneladani Rasulullah jika ia rajin berdakwah, pandai berpidato, tetapi menolak mendengar pendapat pengurus yang lain?” tegas Talqis.

Menurutnya, meneladani Rasulullah juga mencakup cara menyikapi perbedaan pendapat secara bijak. Perbedaan dalam dinamika berorganisasi merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh menjadi pemicu aksi saling mencela atau tindakan yang bertentangan dengan ajaran Nabi.

Ia menekankan bahwa musyawarah adalah pilar penting dalam tata kelola kepemimpinan Islam untuk mencari solusi atas berbagai persoalan. Oleh karena itu, kepemimpinan harus dibangun di atas rasa keterbukaan terhadap masukan orang lain serta ketawakalan kepada Allah SWT.

Prinsip keterbukaan dan permusyawaratan ini sejalan dengan sistem yang diterapkan dalam Muhammadiyah. Hal tersebut tecermin dari pelaksanaan Muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi Persyarikatan, yang dilanjutkan dengan musyawarah berjenjang di tingkat wilayah, daerah, hingga ranting.

Melalui wadah yang terorganisasi, sebuah gerakan kebaikan dapat berjalan secara konsisten dan meluas. Talqis memberi contoh aksi menyantuni anak yatim. Jika dikerjakan secara perorangan, jangkauan dan keberlangsungannya sangat bergantung pada usia serta kemampuan individu tersebut. Sebaliknya, jika dikelola secara kelembagaan, kepedulian itu mampu berkembang menjadi panti asuhan, program beasiswa, dan layanan sosial berkelanjutan yang terus memberi manfaat meski pendirinya telah meninggal dunia.

“Kalau sistemnya terorganisasi, orang lain bisa melanjutkannya,” tambah Talqis.

Ia mengumpamakan organisasi ibarat sebuah bangunan yang tersusun dari berbagai komponen yang saling menguatkan. Setiap anggota memiliki peran strategis sesuai bidangnya, baik melalui dakwah, pendidikan, pelayanan kesehatan, maupun kegiatan sosial. Oleh sebab itu, kontribusi sekecil apa pun dari para anggota tetap berharga untuk memperkuat gerakan bersama.

Bagikan berita ini: