Kabar Persyarikatan

Memahami Tiga Fungsi Musibah Bagi Orang Beriman Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah

Redaksi Baturmu
21 Oktober 20264 Menit
Memahami Tiga Fungsi Musibah bagi Orang Beriman Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Musibah yang melanda seorang Muslim tidak senantiasa menandakan azab atau hukuman dari Tuhan. Dalam pandangan Islam, bencana dan ujian hidup yang dialami orang beriman memiliki tiga fungsi utama, yakni sebagai teguran atas kesalahan, sarana penggugur dosa, hingga jalan meraih kedudukan mulia di sisi Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Qaem Aulassyahied, saat mengisi kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Ahad (18/10).

Dalam pemaparannya, Qaem menjelaskan bahwa keimanan seseorang tidak cukup hanya diikrarkan secara lisan atau diyakini dalam hati, melainkan memerlukan pembuktian melalui ujian hidup dan keterpujian amal. Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang akan dihadapi. Golongan nabi dan orang-orang saleh menjadi pihak yang menerima ujian paling berat.

"Allah tidak hanya mengukur keberimanan seseorang dari ikrarnya melalui lisan, melalui hati, tetapi juga butuh pembuktian, butuh keterpujian iman yang sudah dia ikrarkan di hadapan Allah," jelas Qaem.

Qaem kemudian menguraikan tiga fungsi musibah yang perlu dipahami oleh umat Islam. Pertama, musibah berfungsi sebagai teguran atas tindakan manusia itu sendiri. Hal ini merujuk pada Surah Ar-Rum ayat 41 yang menerangkan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan dampak dari ulah tangan manusia, seperti pembalakan hutan secara liar yang memicu banjir atau eksploitasi alam berlebihan yang merusak lingkungan.

Kedua, musibah dapat menjadi jalan penghapus dosa bagi orang beriman yang terdampak tanpa terlibat langsung dalam penyebab timbulnya bencana. Ia mencontohkan masyarakat yang menjadi korban kabut asap akibat kebakaran hutan. Mengutip hadis riwayat Al-Bukhari, setiap rasa lelah, kesedihan, penyakit, hingga duri yang menusuk seorang Muslim dapat menjadi sarana Allah menghapus sebagian kesalahannya.

Ketiga, musibah yang berujung pada kematian dapat menjadi sarana meraih derajat syahid. Berdasarkan hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, orang yang meninggal dunia akibat wabah penyakit, tenggelam, atau tertimpa reruntuhan termasuk dalam golongan yang memperoleh kemuliaan tersebut.

Oleh karena itu, Qaem mengingatkan umat Islam agar tidak terburu-buru menghakimi korban bencana sebagai orang yang sedang menerima hukuman atas dosa-dosanya. Ia menyinggung fenomena saat musibah besar seperti tsunami Aceh kerap dikaitkan oleh sebagian pihak dengan kemaksiatan masyarakat setempat.

"Bagaimana mungkin kita mengatakan orang beriman yang terkena musibah itu diazab oleh Allah? Padahal di dalam Al-Qur’an untuk umat Nabi Muhammad, musibah itu bisa jadi sebagai teguran, sebagai bentuk kasih sayang, musibah itu sebagai bentuk menghilangkan dosa. Bahkan ada musibah sebagai bentuk mendapatkan surga," tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat untuk senantiasa memperbaiki sudut pandang dalam melihat bencana. Penilaian terhadap suatu peristiwa harus dilakukan secara objektif berdasarkan kondisi dan sebab terjadinya, bukan dengan menghakimi para korban secara sepihak.

Bagikan berita ini: