Kiai Saad Ibrahim: Sinergi Ilmu Agama dan Sains Kunci Utama Islam Berkemajuan

BATURMU.COM, MEDAN — Kader Muhammadiyah didorong untuk mengintegrasikan pemahaman keislaman dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya merawat serta mengembangkan semangat Islam Berkemajuan.
Pesan tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, dalam kegiatan Baitul Arqom bagi tenaga kependidikan (tendik) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) yang berlangsung di BBPPMPV BBL, Jalan Setia Budi, Helvet, Medan, Selasa (22/9).
Dalam pemaparannya, Kiai Saad menjelaskan bahwa pemahaman keislaman di lingkungan Muhammadiyah senantiasa berlandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah Maqbulah. Namun, pemahaman terhadap kedua sumber utama ajaran Islam tersebut membutuhkan perangkat keilmuan yang mumpuni, seperti ilmu hadis, usul fikih, dan metode tarjih.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menyikapi perbedaan pandangan keagamaan secara proporsional. Sikap terhadap hasil ijtihad hendaknya diiringi dengan kerendahan hati serta toleransi, selama berada dalam ranah yang terbuka untuk perbedaan.
Kiai Saad juga menggarisbawahi bahwa pemahaman agama harus berjalan seiring dengan penguasaan sains. Menurutnya, rekam jejak sejarah mencatat peradaban Islam mencapai puncak kejayaannya ketika ilmu agama tumbuh harmonis bersama ilmu pengetahuan modern. Model pemikiran ini telah diteladankan oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, melalui integrasi kurikulum agama dan umum dalam sistem pendidikan.
Atas dasar tersebut, budaya literasi, riset, dan penguatan kapasitas keilmuan dinilai perlu terus diperkuat di seluruh lingkungan Muhammadiyah. Para kader diimbau tidak hanya berfokus pada aktivitas internal Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), tetapi juga berani memperluas jejaring, meningkatkan kompetensi, serta berkontribusi aktif di ruang publik, perguruan tinggi, dan lembaga sosial.
Mengutip Surah Ali Imran ayat 139, Kiai Saad mengingatkan seluruh kader agar tidak merasa lemah atau bersedih hati. Kebanggaan menjadi bagian dari Muhammadiyah harus dibuktikan melalui karya dan kontribusi nyata yang memberi manfaat luas.
“Kebanggaan kita pada Muhammadiyah itu bukan dalam konteks sombong, tetapi dalam konteks kebanggaan yang harus menjadikan kita produktif, tidak menjadi orang yang lemah, serta memiliki orientasi ke depan,” tegas Kiai Saad.
Pelaksanaan Baitul Arqom UMSU ini diharapkan dapat memperkokoh ideologi Muhammadiyah, pemahaman keislaman, serta karakter para tenaga kependidikan agar mampu memberikan pelayanan terbaik demi kemajuan umat dan bangsa.
