Integrasikan Iman, Ilmu, dan Amal Salih, PP Muhammadiyah Pesan Lulusan UMSU Siap Bangun Peradaban

BATURMU.COM, MEDAN — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menegaskan bahwa iman, ilmu, dan amal salih merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan. Nilai-nilai dasar yang diletakkan oleh Nabi Muhammad dan dilanjutkan oleh Kiai Ahmad Dahlan ini menjadi pondasi utama yang ditanamkan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA).
Pesan tersebut disampaikan Dadang pada prosesi Wisuda Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) Periode II Tahun 2026 yang digelar di Medan, Ahad (27/10).
Menurut Dadang, mahasiswa yang menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah sangat beruntung karena mendapatkan penguatan ketiga pilar tersebut melalui mata kuliah Al Islam-Kemuhammadiyahan (AIK). Ia menekankan bahwa masa depan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan juga integritas spiritual dan amal nyata.
“Semoga mahasiswa lulusan UMSU menjadi insan yang beriman, berilmu, dan beramal salih dan berkemajuan serta bisa memberikan manfaat bagi umat dan kemanusiaan semesta untuk membangun peradaban,” ujar Dadang.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa amal kebajikan yang dilandasi keimanan akan memberikan nilai tambah pada setiap karya yang dihasilkan. Karya tersebut tidak hanya memberikan dampak positif bagi kehidupan kemanusiaan di dunia, tetapi juga bernilai pahala untuk urusan akhirat.
Dalam kesempatan itu, Dadang juga menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan studi di UMSU, sebuah perguruan tinggi yang kini telah terakreditasi institusi Unggul serta dikenal luas hingga tingkat internasional.
Menjadi alumni PTMA, menurutnya, secara otomatis membawa para lulusan masuk ke dalam bagian dari tradisi panjang pengabdian dan dakwah pembaharuan pendidikan Islam yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
“Sejak didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan, Muhammadiyah menempatkan pendidikan sebagai instrumen utama dalam gerakan dan tajdid. Mulai pendidikan inilah Muhammadiyah berikhtiar untuk membentuk manusia yang memiliki keutuhan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak pernah memandang ilmu secara dikotomis atau memisahkan antara ilmu agama dan ilmu duniawi. Sejak awal, pendidikan Muhammadiyah didesain sebagai ruang integratif yang memberikan manfaat seimbang untuk kehidupan dunia dan akhirat.
