Haedar Nashir Ingatkan Manusia Agar Tidak Tunduk pada Teknologi AI

BATURMU.COM, BANTUL — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyoroti fenomena ketergantungan manusia terhadap kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia mengingatkan agar manusia tidak tunduk dan kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat menghadiri acara Milad ke-5 dan Wisuda ke-2 Universitas Siber Muhammadiyah (Sibermu) yang berlangsung di Kampus Sedayu, Kabupaten Bantul, Kamis (22/10).
Dalam pidatonya, Haedar menjelaskan perbedaan mendasar antara manusia dan Tuhan dalam merespons ciptaannya. Menurutnya, manusia dibekali akal untuk menciptakan teknologi guna mempermudah kehidupan. Namun seiring berjalannya waktu, manusia justru berpotensi diperbudak oleh entitas buatan tersebut.
"Dia (manusia) bisa menciptakan makhluk yang namanya AI, tetapi dia kehilangan kendali untuk menguasainya. Berbeda dengan Tuhan," ungkap Haedar.
Oleh sebab itu, Haedar mewanti-wanti agar masyarakat tidak menggantungkan seluruh aspek kehidupan kepada alat atau mesin. Sikap pasrah pada teknologi dinilai dapat mengikis potensi diri dan kehendak bebas manusia.
"Tuhan bisa menciptakan apa pun yang dahsyat, tapi Dia Mahakuasa atas segalanya. Nah, di sinilah kalau tidak bergeser, manusia akan bisa ketinggalan potensi diri," tegasnya.
Pentingnya Menjaga Nilai Irfani dan Kalbu
Meski modernitas dan AI menawarkan berbagai kemudahan untuk menyelesaikan urusan teknis mekanistik, Haedar menegaskan bahwa peradaban yang maju tidak boleh dibangun di atas fondasi yang kering dari nilai spiritual dan kemanusiaan.
Ia menjelaskan bahwa manusia bukanlah makhluk mekanis semata. Keunggulan utama manusia dibanding AI terletak pada keberadaan kalbu (rasa) dan dimensi irfani (intuisi/kepekaan batin). Sementara itu, AI cenderung bekerja secara tekstual dan kaku.
"Muhammadiyah tetap menanamkan kecanggihan teknologi dan jadikan teknologi untuk kemakmuran hidup, tidak untuk merusak kehidupan," imbuhnya.
Kendati demikian, Haedar mengimbau agar kemajuan teknologi dipandang secara optimis sebagai sarana untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Manusia diharapkan mampu memanfaatkan kecanggihan mesin tanpa harus kehilangan kendali moral dan keunggulan diri sebagai penggerak peradaban.
