Genap Berusia Satu Abad, Majalah Suara 'Aisyiyah Perkuat Komitmen Literasi dan Peradaban Perempuan

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Mengusung tema "Literasi Perempuan, Peradaban Berkemajuan", majalah Suara 'Aisyiyah merayakan milad satu abad di SM Tower Yogyakarta, Sabtu (10/10). Perayaan momentum bersejarah ini menjadi penegas komitmen media tersebut dalam memperkuat dakwah, literasi, serta ruang pemikiran bagi perempuan berkemajuan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan apresiasinya atas perjalanan panjang Suara 'Aisyiyah dalam mengarungi berbagai tantangan zaman. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan momentum satu abad ini untuk merumuskan arah dan visi media yang lebih modern serta profesional.
Haedar mendorong agar kualitas konten dan estetika majalah terus ditingkatkan agar daya jangkau pembaca dapat diperluas, khususnya bagi warga Muhammadiyah dan 'Aisyiyah. Langkah ini dinilai penting agar Suara 'Aisyiyah tetap relevan sebagai sarana literasi dan dakwah yang menjawab tuntutan era.
Sementara itu, Ketua Umum PP 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengajak seluruh pihak untuk merefleksikan kembali perjuangan para perintis majalah. Menurutnya, para tokoh terdahulu memiliki Visi yang sangat jauh ke depan mengenai pentingnya akses informasi dan wawasan bagi kaum perempuan.
"Suara ‘Aisyiyah merupakan sejarah panjang pemikiran para tokoh-tokoh ‘Aisyiyah," ujar Salmah.
Dosen Program Studi Farmasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut menegaskan bahwa rekam jejak pemikiran tersebut harus terus dirawat. Hal itu diperlukan agar media ini tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan mampu terus bertransformasi.
"Suara ‘Aisyiyah harus menjadi salah satu pusat literasi perempuan," tegasnya.
Salmah juga berharap Suara 'Aisyiyah senantiasa konsisten memperluas syiar dakwah Islam yang menebarkan kemanfaatan serta nilai-nilai kemanusiaan bagi masyarakat luas.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Suara 'Aisyiyah, Khusnul Hidayah, menggarisbawahi bahwa pemaknaan literasi saat ini tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis semata, melainkan harus mencakup kemampuan berpikir secara kritis.
"Literasi bukan hanya membaca dan menulis, tapi kemampuan untuk berpikir kritis," kata Khusnul.
Khusnul juga mengingatkan pentingnya aspek kemandirian ekonomi untuk menopang keberlanjutan media. Selain idealisme yang kuat, dukungan dari seluruh ekosistem Persyarikatan sangat dibutuhkan.
"Kami ingin Suara ‘Aisyiyah tidak hanya kuat secara idealisme, tetapi juga secara ekonomi. Pada kesempatan ini, kami ingin memohon dukungan seluruh AUM dan amal usaha ‘Aisyiyah agar tetap berlangganan Suara ‘Aisyiyah untuk menjaga warisan intelektual," tuturnya.
Pimpinan Redaksi Suara 'Aisyiyah, Hajar Nur Setyowati, menambahkan bahwa sejak awal kemunculannya, media ini telah menyuarakan ide kesetaraan perempuan di tengah tatanan sosial yang membatasi. Ia menilai media bertindak sebagai wadah krusial untuk mentransformasikan gagasan pemikiran perempuan menjadi sebuah gerakan nyata.
Puncak peringatan Milad Seabad Suara 'Aisyiyah ditandai dengan penganugerahan Lifetime Achievement Award kepada dua tokoh pers perempuan, yakni Siti Hayina dan Siti Chamamah Soeratno. Penghargaan tersebut diserahkan kepada perwakilan keluarga masing-masing.
Panitia juga memberikan apresiasi kepada kontributor dan penulis produktif, Kusnita serta Suko Wahyudi, serta penghargaan bagi agen berprestasi yang diraih oleh Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Jakarta Pusat dan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) Blora.
Rangkaian perayaan diakhiri dengan pengumuman pemenang lomba penulisan artikel dan TikTok Challenge, serta penutupan yang menghibur dari penampilan stand-up comedy Chairul Mukmin.
