Dakwah Komunitas LDK PP Muhammadiyah: Mengabdi dan Memperkuat Kemandirian Masyarakat

BATURMU.COM, JAKARTA — Aktivitas dakwah dalam Islam tidak hanya sebatas penyampaian ajaran agama di atas mimbar masjid, majelis taklim, atau forum pengajian. Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin, menegaskan pentingnya dakwah komunitas yang hadir secara nyata untuk mendampingi dan memberdayakan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan sosial serta ekonomi.
Menurut Arifin, dakwah yang sesungguhnya tidak berakhir saat mikrofon dimatikan. Dakwah yang berdampak justru dimulai ketika seorang dai ikut memikirkan kesejahteraan warga, membantu mencari solusi atas keterbatasan hidup, dan menumbuhkan keyakinan akan masa depan yang lebih baik.
Pandangan ini diperkuat oleh pengalaman lapangan yang didapatkan Arifin saat tinggal sementara bersama masyarakat Baduy Luar dalam rangka penelitian disertasi doktoral Sosiologi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa niat baik saja tidak cukup, sebab setiap daerah memiliki nilai, tradisi, dan dinamika tersendiri yang harus dipahami secara mendalam.
Ia menjelaskan bahwa para dai yang diterjunkan oleh LDK PP Muhammadiyah ke kawasan tersebut tidak sekadar datang untuk berceramah lalu pulang. Mereka dituntut untuk menetap, membangun kedekatan, mendengar kebutuhan warga, serta merawat kepercayaan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, program pemberdayaan ekonomi mulai tumbuh, seperti pengembangan sektor pertanian kacang tanah dan pisang, serta peternakan kambing sebagai alternatif mata pencaharian warga setempat.
"Bantuan mungkin menyelesaikan kebutuhan sesaat. Pemberdayaan berupaya membangun kemampuan untuk menghadapi kebutuhan berikutnya. Keduanya dapat saling melengkapi, tetapi tujuan jangka panjangnya harus jelas: masyarakat semakin berdaya, bukan semakin bergantung," tegas Muchamad Arifin.
Arifin juga mengusung prinsip bahwa dakwah hendaknya "mengurus, bukan sekadar diurus". Artinya, dai tidak memosisikan diri sebagai pihak yang paling tahu atau membawa jawaban instan atas semua persoalan, melainkan menjadi mitra yang siap belajar, berdialog, dan berikhtiar bersama masyarakat. Prinsip ini berlandaskan pada semangat Surah Ar-Ra’d ayat 11, yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam perubahan hidup mereka sendiri.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dakwah komunitas bukanlah dakwah kelas dua yang harus dipertentangkan dengan dakwah mimbar. Ceramah agama dan pendampingan sosial-ekonomi justru saling menguatkan; ceramah menyalakan kesadaran spiritual, sementara pendampingan komunitas mewujudkan kesadaran tersebut dalam tindakan nyata bagi kesejahteraan umat.
