TelurMoe Farm: Mengintip Keberhasilan Peternakan Ayam Petelur Kelompok Difabel Dampingan MPM Muhammadiyah

BATURMU.COM, SLEMAN — Peternakan ayam petelur TelurMoe Farm yang berlokasi di Sleman menjadi destinasi studi banding bagi Pemerintah Desa (Pemdes) dan BPD Jemawan, Kabupaten Klaten. Kunjungan yang berlangsung pada Ahad (27/9) ini diikuti oleh 50 peserta, termasuk perwakilan dari Koperasi Desa Merah Putih Jemawan, untuk mempelajari model pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas difabel.
TelurMoe Farm dikelola oleh kelompok Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Difabel di bawah pendampingan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Fasilitator MPM PP Muhammadiyah, Syauqi, menjelaskan bahwa usaha peternakan ini merupakan wujud kolaborasi antara MPM PP Muhammadiyah, Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, dan LAZISMU Pusat untuk menyediakan ruang belajar sekaligus lapangan kerja yang inklusif.
Dalam pertemuan tersebut, pengurus kelompok difabel, Yanti, membagikan pengalaman mereka dalam mengelola unit usaha tersebut. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya atas pendampingan dari MPM PP Muhammadiyah yang memungkinkan para anggota bekerja sesuai dengan kondisi fisik masing-masing.
“Kami mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisi keterbatasan fisik kami,” ujar Yanti.
Perkembangan peternakan ini dilakukan secara bertahap. Yanti menceritakan, pada awalnya kelompok mereka hanya mengelola sekitar 300 ekor ayam petelur. Melalui proses belajar dan pendampingan yang konsisten, kini mereka mampu merawat sekitar 1.000 ekor ayam dengan tingkat produksi harian mencapai 900 hingga 920 butir telur.
Produk TelurMoe sendiri diposisikan sebagai telur kesehatan yang memiliki keunggulan rendah kalori dan lemak, serta kaya akan protein dan kandungan omega 3, 6, dan 9. Meski memiliki kualitas unggul, Yanti mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi terletak pada rantai pemasaran.
“Telur ini memiliki kandungan rendah kalori dan lemak, tinggi kandungan protein, serta omega 3, 6, 9 sehingga sangat bagus untuk kesehatan. Tantangan terberat pada pemasaran untuk telur kategori khusus ini,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, MPM PP Muhammadiyah turut memfasilitasi pencarian pembeli dan pembukaan akses pasar. Di sisi lain, para anggota kelompok difabel tidak tinggal diam dan memilih ikut terlibat aktif dalam proses pemasaran.
“Maka, di samping MPM PP membantu mencarikan pelanggan, kami semua anggota ikut menjadi marketing, ikut memasarkan semampu kami. Lumayan, kami bisa mendapatkan margin untuk tambahan pendapatan harian kami,” tutur Yanti.
Keberhasilan pengelolaan TelurMoe Farm ini memberikan inspirasi bagi rombongan dari Desa Jemawan. Kehadiran peternakan ini membuktikan efektivitas pembentukan ekosistem pemberdayaan yang memadukan dukungan modal, ketersediaan lahan, pelatihan keterampilan, pendampingan, hingga akses pemasaran.
