Kabar Persyarikatan

Syafiq Mughni Ungkap Lima Tantangan Utama Internasionalisasi Muhammadiyah

Redaksi Baturmu
25 September 20264 mnt baca
Syafiq Mughni Ungkap Lima Tantangan Utama Internasionalisasi Muhammadiyah

BATURMU.COM, MEDAN — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, membeberkan lima tantangan mendesak yang dihadapi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam internasional. Kelima isu global tersebut dinilai perlu mendapat perhatian dan respons serius untuk segera diselesaikan.

Dalam pemaparannya pada Selasa (22/9) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Syafiq menyebutkan bahwa tantangan pertama yang dihadapi adalah sektarianisme. Menurutnya, isu perpecahan sektarian memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang.

Ia menjelaskan bahwa sektarianisme memiliki dampak positif apabila dipandang sebagai realitas pemikiran atau khazanah intelektual. Namun, hal itu akan berdampak sangat destruktif jika dimanfaatkan di luar koridor akademis.

“Kalau itu adalah sebuah realitas intelektual sangat positif. Tetapi kalau ini kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan di luar sektarian, di luar pemikiran-pemikiran intelektual, maka ini bisa memperparah atau menjadi pecahnya, renggangnya ukhuwah Islam,” ujar Syafiq.

Ia menambahkan, dalam pengamatannya, perspektif politis sering kali menjadikan isu sektarian sebagai bahan bakar untuk memicu dan memanaskan konflik di dunia Islam.

Tantangan kedua terletak pada melemahnya peran lembaga multilateral dunia, khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam menuntaskan persoalan global. Syafiq menyoroti ketidakberdayaan organisasi internasional tersebut dalam menghadapi penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh sejumlah negara anggotanya.

“Dan ini adalah kelemahan yang jelas sekali yang menuntut kita semua untuk bisa bergerak dan menjawab tantangan yang selama ini menjadi problem bagi masyarakat internasional,” ungkapnya.

Tantangan ketiga adalah maraknya fenomena Islamofobia, yaitu kebencian atau ketidaksukaan sebagian masyarakat dunia terhadap Islam yang kerap dicap sebagai sumber masalah. Meskipun PBB telah menetapkan Maret sebagai Bulan Anti-Islamofobia, praktik diskriminasi dan upaya penolakan terhadap umat Islam masih terus terjadi di berbagai belakangan.

“Kita menganggap itu sebagai tantangan sehingga kita semua harus bekerja keras untuk bisa mengatasi atau menyelesaikan akibat negatif dari berbagai fenomena Islamofobia itu,” tutur Syafiq.

Tantangan keempat yang tidak kalah krusial adalah krisis iklim. Mengutip sejumlah data, Syafiq mengingatkan bahwa jika laju krisis lingkungan terus dibiarkan tanpa penanganan berarti, bumi berpotensi menjadi tempat yang tidak lagi dapat dihuni oleh makhluk hidup.

“Kita kalau tidak berbuat sesuatu berarti akan mewariskan malapetaka itu bagi generasi yang akan datang,” tegasnya.

Adapun tantangan kelima adalah ekstrimisme kekerasan (violent extremism) atau radikalisme. Syafiq menekankan bahwa ancaman radikalisme bukanlah isu eksklusif yang hanya melekat pada umat Islam, melainkan permasalahan lintas agama, bangsa, dan kawasan.

“Maka saya kira kita tidak bisa melihatnya sebagai eksklusif di kalangan umat Islam. Kekerasan atau ekstrim kekerasan itu dan bahkan itu sudah menjadi gejala di berbagai agama, di berbagai kawasan, di berbagai bangsa,” pungkas Syafiq.
Bagikan artikel ini: