Kabar Persyarikatan

Refleksi Tauhid, LP UMKM Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Kemandirian Ekonomi Umat

Redaksi Baturmu
27 September 20263 mnt baca
Refleksi Tauhid, LP UMKM Muhammadiyah Tekankan Pentingnya Kemandirian Ekonomi Umat

BATURMU.COM, JAKARTA — Dewan Pakar Lembaga Pengembang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LP UMKM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Euis Amalia, menegaskan bahwa upaya membangun kemandirian ekonomi umat merupakan bagian penting dari perwujudan nilai-nilai keimanan dan tauhid.

Menurut Euis, kemiskinan bukanlah ketetapan yang tidak bisa diubah, melainkan persoalan sosial-ekonomi yang harus diselesaikan melalui ikhtiar dan kerja sama kolektif.

“Kemandirian umat itu adalah bagian dari keimanan kita. Jadi, tauhid kita harus direfleksikan dari bagaimana kemampuan kita membuat kemandirian umat,” ujar Euis.

Ia menjelaskan bahwa penguatan ekonomi tidak dapat dilakukan secara individual. Diperlukan konsolidasi kelembagaan dan kolaborasi yang erat di antara seluruh elemen umat. Langkah ini juga sejalan dengan gagasan Islam Berkemajuan yang mendorong pembangunan peradaban berbasis tauhid, Al-Qur’an, dan sunah, dengan terus menghidupkan semangat ijtihad serta tajdid.

“Islam Berkemajuan adalah Islam yang memberikan pencerahan, Islam yang membangun peradaban, Islam yang berkelanjutan, dan Islam yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Dalam konteks pembangunan ekonomi, Euis memaparkan lima prinsip utama ekonomi berkemajuan, yakni tauhid dan amanah, sikap produktif bukan konsumtif, keadilan, kolaborasi, serta keberlanjutan.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai pilar utama perekonomian nasional. Menurutnya, hambatan yang dihadapi pelaku UMKM saat ini sangat kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah permodalan, tetapi juga mencakup legalitas, sertifikasi, kapasitas manajerial, adaptasi teknologi digital, akses pasar, hingga kendala rantai pasok.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia,” ungkap Euis.

Khusus di lingkungan Muhammadiyah, Euis melihat adanya potensi ekonomi yang sangat besar melalui keberadaan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), seperti perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, pesantren, hingga jaringan para saudagar. Kendati demikian, potensi besar tersebut harus diaktualisasikan melalui jejaring kerja sama yang terstruktur.

“Potensi ini perlu diaktualkan menjadi kekuatan ekonomi Muhammadiyah. Dan ini perlu berjejaring, tidak boleh sendiri-sendiri,” pungkasnya.

Ia berharap sinergi yang terintegrasi antara lembaga keuangan syariah, pengelola zakat dan wakaf, industri halal, serta para pelaku UMKM dapat melahirkan ekosistem ekonomi umat yang solid. Ekosistem tersebut diharapkan tidak hanya mewujudkan kemandirian ekonomi umat, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian Indonesia secara luas.

Bagikan artikel ini: