Rawat Tradisi Besar Persyarikatan, Haedar Nashir Ajak Kader Jadikan Masalah sebagai Panggilan Berbuat

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Kepercayaan masyarakat yang terus meningkat serta pesatnya pertumbuhan aset organisasi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan pencapaian luar biasa yang patut disyukuri. Kendati demikian, kemajuan tersebut tidak datang secara instan, melainkan hasil dari tradisi besar yang konsisten dijaga sepanjang perjalanan gerakan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat menyampaikan amanah dalam acara Taaruf Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Jumat malam (2/10).
Haedar menjelaskan bahwa kebesaran Muhammadiyah saat ini sangat bergantung pada tradisi besar yang diterapkan secara konsisten, baik dalam sistem keorganisasian maupun pola hidup para kadernya.
Mengutip konsep The Great Tradition yang dicetuskan oleh antropolog asal Amerika Serikat, Robert Redfield, Haedar menegaskan komitmen Muhammadiyah untuk terus merawat tradisi luhur yang telah dibangun sejak awal berdirinya Persyarikatan.
“Tradisi besar itu berarti sebuah sistem yang di dalamnya ada sekelompok elite terpilih yang memiliki sistem kelembagaan yang unggul, kokoh, yang bagus. Kemudian habit orang di dalamnya juga menunjukkan budaya yang adiluhung,” ujar Haedar.
Dalam kerangka berpikir tersebut, ia menilai Muhammadiyah sebagai organisasi kosmopolit yang berupaya menjangkau wilayah terluar sekaligus memberi kontribusi nyata bagi peradaban dunia.
“Itu dibangun di atas semangat keikhlasan, pengkhidmatan, kegigihan, kemandirian, dan etos pergerakan yang selalu hidup dalam jiwa setiap orangnya, baik dari pusat sampai ke pelosok-pelosok terjauh,” tuturnya.
Menanggapi berbagai capaian tersebut, Haedar mengingatkan seluruh warga Persyarikatan agar semangat menjaga tradisi besar senantiasa dibingkai dengan rasa syukur dan optimisme. Menurutnya, menyadari adanya masalah dalam organisasi memang penting, namun hal itu tidak boleh menggerus rasa syukur atas keberhasilan yang telah diraih.
“Kalau di tengah jalan kita ada masalah, kesadaran akan masalah itu harus tetap selalu hidup. Tetapi jangan membalik keadaan. Syukur kita harus selalu lebih besar ketimbang kita melihat masalah,” pesan Haedar.
Oleh karena itu, ia mengimbau para kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk tidak terlalu mendramatisasi dinamika atau persoalan yang ada. Terlalu berfokus pada hambatan justru berpotensi mengaburkan cara pandang positif dalam menggerakkan organisasi.
“Kalau Anda terus melihat penyakit dan mencari-cari terus penyakit, ya jadilah orang sakit,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya membangun pola pikir yang konstruktif di tingkat kader. Setiap persoalan yang muncul hendaknya disikapi secara proporsional dan dijadikan pelecut untuk menghadirkan perbaikan.
“Yang jadi masalah, kelemahan, dan kekurangan kita perbaiki, perbaiki, dan perbaiki. Bila perlu kita amputasi secara internal. Jangan kita obral masalah itu, karena kalau kita obral permasalahan, yang malu kita sendiri, kan?” kata Haedar.
Pada akhirnya, kesadaran akan kekurangan yang ada tidak boleh menyurutkan langkah pergerakan. Sebaliknya, dinamika tersebut harus dimaknai sebagai panggilan untuk terus berbuat, membenahi diri, serta memastikan tradisi besar Muhammadiyah tetap mengakar kuat dalam setiap laju perjuangan organisasi. (Bhisma)
