Kabar Persyarikatan

Penguatan Ekonomi Umat dan Mental Wirausaha Kunci Keberlanjutan Dakwah Muhammadiyah

Redaksi Baturmu
26 September 20263 mnt baca
Penguatan Ekonomi Umat dan Mental Wirausaha Kunci Keberlanjutan Dakwah Muhammadiyah

BATURMU.COM, JAKARTA — Keberlangsungan sebuah organisasi keagamaan tidak hanya bergantung pada kekuatan finansial secara kelembagaan, tetapi juga resiliensi keuangan para jemaahnya. Hal tersebut ditegaskan oleh Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, dalam Pengajian PP Muhammadiyah yang berlangsung di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (25/9) malam.

Mengusung tema "Muhammadiyah dan Kemandirian Ekonomi Umat", Hilman menekankan pentingnya menerjemahkan narasi penguatan ekonomi ke dalam langkah-langkah nyata. Salah satu wujud konkret yang sudah direalisasikan adalah pendirian Koperasi Syariah Menara 62 di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, sebagai wadah kebersamaan.

Meski Muhammadiyah telah aktif di berbagai bidang yang beririsan dengan sektor ekonomi, Hilman menilai belum semua struktur dan jaringan organisasi memiliki mental kewirausahaan yang tangguh.

“Ayo buat pabrik, ini jaringannya kuat, teknologinya kita ada, tempatnya kita ada. Tapi kalau mental belum terbangun kita belum bisa,” ungkap Hilman.

Dalam kesempatan tersebut, Hilman mengajak untuk tidak ragu belajar dari negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi pesat seperti Cina. Menurutnya, umat Islam masa kini harus terbuka menjalin kerja sama ekonomi dengan berbagai pihak, sebagaimana sejarah mencatat para Sahabat Nabi terdahulu yang bahkan melakukan syiar dakwah hingga ke daratan Cina.

Ia juga menyoroti peran Muhammadiyah dalam industri halal dan keuangan syariah yang dinilai masih belum maksimal, meski Muhammadiyah memiliki potensi sumber daya yang amat besar. Walaupun ekosistem filantropi Persyarikatan telah berkembang pesat, sektor lembaga keuangan syariah Muhammadiyah dianggap masih perlu diperkuat.

Terkait konsep pemberdayaan ekonomi umat, Hilman mengingatkan agar gerakan ini dimulai dari lingkaran terdekat terlebih dahulu, seperti keluarga, jemaah masjid, dan anggota organisasi internal.

Secara khusus, Hilman mendorong Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) untuk lebih aktif mengambil peran dalam dunia bisnis modern dan gaya hidup, seperti industri fashion syariah yang potensial di kalangan milenial dan Gen Z, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital.

“Coba ananda narasinya jangan seperti orang tua. Berat-berat semua. Ada yang bisa menyentuh aspek wirausaha, dunia fashion syariah umpamanya,” harap Hilman.

Hilman memungkas dengan mengimbau seluruh warga Muhammadiyah, terutama generasi muda, agar jeli melihat peluang bisnis dan tidak menyia-nyiakan kemudahan teknologi demi mewujudkan kemandirian ekonomi organisasi dan umat.

Bagikan artikel ini: