Muhammadiyah dan Grand Mufti Kamboja Jajaki Kerja Sama Pendidikan Islam dan Lingkungan

BATURMU.COM, JAKARTA — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan kehormatan dari Grand Mufti Kamboja, Syaikh Yahya Yusof, di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, pada Senin (28/9). Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama strategis, mulai dari pengembangan pendidikan Islam, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), hingga gerakan lingkungan hidup.
Kunjungan delegasi Kamboja tersebut disambut oleh Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) PP Muhammadiyah Mohammad Mas’udi, anggota MTT PP Muhammadiyah Ghoffar Ismail, serta Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah Hening Parlan. Dalam kesempatan tersebut, Hening memaparkan gambaran umum struktur organisasi, majelis, lembaga, organisasi otonom, serta beragam amal usaha Muhammadiyah di sektor pendidikan, kesehatan, sosial, keagamaan, dan lingkungan.
Dalam pemaparannya, Grand Mufti Kamboja Syaikh Yahya Yusof menceritakan realitas pendidikan dan kondisi umat Islam di Kamboja saat ini. Ia mengungkapkan bahwa Kamboja memiliki sekitar 634 sekolah Islam yang menampung lebih dari 71 ribu siswa. Meski demikian, pengelolaan sekolah-sekolah tersebut masih menghadapi tantangan besar akibat keterbatasan SDM dan belum adanya sistem pendanaan yang mandiri.
Dari total tenaga pengajar yang ada, sekitar 1.500 guru telah mendapatkan dukungan dari pemerintah setempat, sementara 900 guru lainnya masih berstatus sebagai relawan. Oleh karena itu, pihak Kamboja berharap pengalaman panjang Muhammadiyah dalam mengelola lembaga pendidikan dapat menjadi rujukan untuk meningkatkan kapasitas guru, kepala sekolah, serta tata kelola sekolah di Kamboja.
“Kami masih memiliki kemampuan yang terbatas. Cara pengelolaan sekolah pun masih terbatas. Dengan adanya kunjungan ini, semoga ke depan kita bisa bekerja sama, terutama dalam bidang guru dan murid,” ujar Syaikh Yahya Yusof.
Selain sektor pendidikan dasar dan menengah, delegasi Kamboja juga tertarik mengembangkan gerakan lingkungan hidup terintegrasi berbasis pendidikan Islam. Muhammadiyah melalui Majelis Lingkungan Hidup menyambut baik hal tersebut dan membuka ruang untuk berbagi pengalaman.
Pertemuan ini turut menjajaki peluang kolaborasi akademik antara perguruan tinggi Muhammadiyah dengan lembaga pendidikan di Kamboja. Bentuk kerja sama yang dirancang meliputi program pertukaran mahasiswa, pelatihan tenaga pendidik, penelitian bersama, hingga kegiatan pengabdian masyarakat.
Menanggapi rencana kerja sama tersebut, Wakil Ketua MTT PP Muhammadiyah Mohammad Mas’udi menjelaskan pendekatan keagamaan Muhammadiyah dalam merespons isu-isu kontemporer melalui metode bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan ini mengintegrasikan sumber keagamaan, rasionalitas ilmu pengetahuan, dan pertimbangan kemaslahatan umum.
Mas’udi menekankan pentingnya memahami karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat dalam setiap langkah ekspansi program Muhammadiyah di tingkat internasional.
“Kalau kita ke Kamboja, kita harus melihat bagaimana Kamboja itu. Kita tidak boleh mengacak-acak budaya yang ada. Kita harus masuk dari hal-hal yang disepakati bersama,” jelas Mas'udi.
Pertemuan silaturahmi ini diharapkan menjadi awal yang baik dalam memperkuat hubungan kemitraan antara Muhammadiyah dan komunitas Muslim Kamboja, khususnya pada bidang-bidang keumatan yang potensial untuk ditindaklanjuti secara konkret.
