Majelis Tarjih Muhammadiyah: Kesederhanaan Nabi Muhammad Adalah Zuhud, Bukan Kemiskinan yang Stigmatif

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ali Yusuf, mengingatkan umat Islam agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah sosok yang miskin dalam artian negatif. Menurutnya, pemaknaan terhadap rekam jejak kehidupan Rasulullah harus dibaca secara utuh agar tidak memicu stigma maupun pemahaman keagamaan yang keliru.
Hal tersebut disampaikan Ali dalam Kajian Ahad Pagi di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. Ia menekankan pentingnya menempatkan istilah kemiskinan secara tepat saat mendiskusikan kehidupan Rasulullah.
“Jangan sampai nanti ada pemahaman kita menstigma Nabi kita itu miskin dalam pengertian konotasinya negatif,” ujar Ali.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks sosial-ekonomi, kemiskinan memang lazim diartikan sebagai kondisi kekurangan materi. Kendati demikian, keadaan tersebut tidak sepantasnya melahirkan stigma negatif terhadap seseorang.
Ali mencontohkan berbagai stigma yang sering muncul di masyarakat, seperti pandangan keliru terhadap orang yang berkonsultasi ke psikolog, kelompok janda, hingga lulusan pesantren. Label-label negatif tersebut sering kali lahir dari prasangka dan tidak mencerminkan kenyataan individu yang bersangkutan.
“Bahasa lain ya berburuk sangka, berpikiran negatif itu stigma. Termasuk tadi kemiskinan pun jangan sampai distigmakan dengan stigma yang negatif,” lanjutnya.
Dalam sejarah kehidupan Nabi, Ali menilai stigma bisa membawa implikasi teologis yang berisiko. Apabila riwayat mengenai kesederhanaan Nabi dibaca secara parsial tanpa melihat konteks utuh, umat berisiko menganggap bahwa kemiskinan adalah keadaan ideal yang harus disengaja atau ditiru.
Pemahaman yang dangkal tersebut dinilai dapat memicu anggapan keliru bahwa umat Islam tidak perlu bekerja keras untuk sejahtera. Padahal, sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah pribadi yang mandiri, bekerja keras sebagai penggembala sejak kecil, dan memiliki kemampuan berniaga untuk memperoleh harta.
Ali merujuk pada Surah Ad-Duha ayat 6–8, khususnya firman Allah yang berbunyi وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ, yang menggambarkan perjalanan Nabi dari kondisi berkekurangan (‘āilan) hingga dianugerahi kecukupan oleh Allah Swt.
“Berangkat dari tidak punya kemudian Allah yang memberi kecukupan,” jelas Ali.
Terkait riwayat dari Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa dapur di rumah Nabi pernah tidak mengepulkan asap dan hanya mengonsumsi kurma serta air, atau hadis mengenai Nabi yang menggadaikan baju besinya demi gandum, Ali menilai hal itu mencerminkan dinamika keterbatasan pangan pada momen tertentu, bukan gambaran umum bahwa seluruh hidup beliau berada dalam garis ketidakmampuan.
Di samping itu, Rasulullah senantiasa mengajarkan kemandirian dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjahit pakaian dan memperbaiki sandalnya sendiri tanpa bergantung pada bantuan orang lain.
Mengenai doa Nabi yang berbunyi “Allahumma ahyini miskinan, wa amitni miskinan, wahsyurni fi zumratil masakin yaumal qiyamah,” Ali menegaskan bahwa doa tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai keinginan untuk melarat secara ekonomi. Kata "miskin" dalam doa tersebut merefleksikan sikap tawadhu atau kerendahan hati yang mendalam di hadapan Sang Pencipta.
“Kalau di hadapan Allah kita merendah, ‘Ya Allah, kami dalam keadaan miskin. Engkau Yang Mahakaya.’ Kan begitu,” tuturnya.
Sebagai penutup, Ali menegaskan bahwa membaca riwayat Nabi harus dilakukan secara menyeluruh. Sisi keterbatasan materi menunjukkan kesederhanaan beliau, sedangkan rekam jejak kerja keras dan kedermawanannya menunjukkan dimensi lain yang tak kalah penting. Karena itu, konsep yang paling tepat untuk mendeskripsikan jalan hidup Rasulullah adalah zuhud.
“Nabi bukan miskin, tetapi Nabi memilih zuhud. Itu adalah pilihan hidup,” pungkas Ali.
