Kabar Persyarikatan

Majelis Tarjih Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Istiqamah: Amal Kecil Rutin Lebih Dicintai Allah

Redaksi Baturmu
29 September 20264 mnt baca
Majelis Tarjih Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Istiqamah: Amal Kecil Rutin Lebih Dicintai Allah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Mengetahui kebenaran dan mulai berbuat baik mungkin terasa relatif mudah. Namun, tantangan terbesar bagi seorang Muslim sejatinya adalah menjaga ketaatan tersebut secara konsisten atau beristiqamah dalam menjalankan perintah agama.

Pesan tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Homaidi Hamid, saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Dalam khutbahnya, Homaidi mengutip riwayat ketika sahabat Sufyan bin Abdullah al-Tsaqafi meminta nasihat mendasar tentang Islam kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Qul amantu billah tsumma istaqim”, yang bermakna, "Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah,' kemudian beristiqamahlah."

Menurut Homaidi, pesan Nabi SAW tersebut menegaskan bahwa keimanan seseorang tidak cukup hanya berhenti pada pengakuan lisan. Setelah menyatakan iman kepada Allah, seorang mukmin dituntut untuk terus konsisten berjalan di atas shirath al-mustaqim atau jalan yang lurus.

Ia menjelaskan bahwa para ulama mengartikan istiqamah sebagai luzumu tha’atillah, yakni senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. Jika syahadat adalah pintu gerbang menuju keimanan, maka istiqamah merupakan langkah nyata untuk merawat keimanan tersebut secara berkelanjutan.

Homaidi juga menyinggung firman Allah SWT dalam Surah Fussilat ayat 30. Ayat tersebut menjanjikan ketenangan batin melalui kehadiran malaikat bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan teguh beristiqamah, sehingga mereka tidak perlu merasa takut maupun bersedih.

Untuk mencapai derajat istiqamah, Homaidi menyarankan umat Islam agar pandai memprioritaskan amalan. Ibadah wajib harus senantiasa ditunaikan dengan disiplin, sementara hal-hal yang dilarang harus dijauhi. Adapun untuk amalan sunah, ia mengimbau agar dilakukan secara bertahap dan tidak memaksakan diri secara berlebihan di awal.

Ia mengingatkan sabda Nabi SAW bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dikerjakan secara berkelanjutan, meskipun jumlahnya sedikit.

Sebagai gambaran, membaca Al-Qur'an satu halaman setiap hari secara rutin jauh lebih utama ketimbang membaca dalam jumlah banyak sekaligus namun setelah itu terhenti. Begitu pula dalam menunaikan ibadah malam.

“Melaksanakan salat lail mungkin hanya witir satu rakaat atau bahkan tiga rakaat, tetapi dilakukan secara terus-menerus secara rutin setiap malam,” ujar Homaidi.

Selain itu, Homaidi berpesan agar jamaah tidak memandang sebelah mata amalan-amalan kecil. Kebiasaan melakukan kebaikan secara rutin dapat membentuk karakter seseorang agar senantiasa mencintai kebajikan.

Ia menyitir hadis Nabi SAW, “Ittaqū an-nāra walau bi syiqqi tamrah”, yang menyerukan umat Islam untuk membentengi diri dari api neraka walau hanya dengan bersedekah separuh buah kurma. Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak diukur semata dari besar atau kecilnya bentuk amalan.

“Rasulullah menghargai itu dan itu pun jika dilaksanakan dengan ikhlas insyaallah akan menjadi penolong kita, akan memperberat amal-amalan kebaikan kita,” tuturnya.

Menutup khutbahnya, Homaidi mengajak seluruh jamaah untuk melatih diri beristiqamah mulai dari satu amal kebaikan yang sanggup dijaga secara konsisten. Setelah amalan tersebut menjadi kebiasaan, barulah menambah amalan kebaikan lainnya secara bertahap.

“Mudah-mudahan kita menjadi orang yang mencintai kebenaran, mencintai amal saleh, dan benci kepada hal-hal yang dilarang,” pungkasnya.
Bagikan artikel ini: