Kisah Irnawati Bahtiar: Kader Muhammadiyah yang Meniti Studi dan Berorganisasi di Irlandia Utara

BATURMU.COM, IRLANDIA UTARA — Menjadi kader organisasi Islam tidak menghalangi langkah seseorang untuk menuntut ilmu hingga ke mancanegara. Hal ini dibuktikan oleh Irnawati Bahtiar, seorang kader Muhammadiyah yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Irlandia Utara, Britania Raya.
Dalam program Diasporamu di TVMu, Irnawati membagikan pengalamannya beradaptasi di lingkungan akademik dan sosial yang sangat berbeda dari Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa menempuh studi di luar negeri memberikan banyak pengalaman baru, mulai dari perbedaan budaya, sistem pendidikan, hingga dinamika kehidupan sebagai mahasiswa internasional.
Sebelum berangkat ke Irlandia Utara, Irnawati telah menyelesaikan pendidikan S-1 dan S-2 di Indonesia. Langkahnya melanjutkan studi ke luar negeri menuntut proses adaptasi yang tidak sedikit terhadap lingkungan yang multikultural.
"Karena memiliki banyak hal-hal baru yang kita temukan dan juga multikultural, tentu sangat banyak penyesuaian dan adaptasi yang perlu disesuaikan," ujarnya.
Tantangan tersebut terasa kian kompleks lantaran Irnawati juga menjalankan peran ganda sebagai seorang ibu yang membawa anak-anaknya. Situasi ini menuntut ketahanan mental dan fisik yang kuat serta pengelolaan waktu yang ketat.
"Di sini butuh ketahanan mental dan juga fisik serta manajemen waktu, kapan kita bisa memosisikan diri sebagai seorang ibu dan juga student," kata Irnawati.
Selain perbedaan budaya, kondisi iklim menjadi tantangan tersendiri. Irlandia Utara memiliki empat musim dengan suhu yang pada waktu tertentu dapat merosot hingga minus 10 derajat Celsius. Meski telah membekali diri dengan informasi teoretis sebelum keberangkatan, kenyataan di lapangan tetap membutuhkan persiapan fisik dan mental yang jauh lebih matang, terutama dalam menyediakan pakaian musim dingin bagi anak-anaknya.
Di balik berbagai tantangan tersebut, Irnawati menemukan daya tarik tersendiri di Kota Belfast, tempatnya bermukim. Menurutnya, atmosfer Belfast cenderung tenang, ramah, dan sangat kondusif bagi mahasiswa. Suasana kota ini bahkan mengingatkannya pada Yogyakarta.
"Kalau di Indonesia kita kenal slow living atau kota yang cukup adaptabel untuk student itu di Jogja. Kalau di Britania Raya atau di UK itu di Belfast. Jadi Jogjanya Indonesia," kelakarnya.
Ia juga tersentuh oleh kebiasaan masyarakat lokal yang ramah dan gemar menyapa di ruang publik, sebuah tradisi yang membuatnya merasa dekat dengan kebudayaan di Indonesia.
Mengenai proses persiapan studi, mantan dosen dan sekretaris program studi di Indonesia ini menyebutkan bahwa persiapannya membutuhkan waktu cukup panjang, yakni sekitar 18 bulan. Di sela-sela rutinitas pekerjaannya saat itu, ia harus mengikuti kursus bahasa Inggris, ujian IELTS, mengurus penerjemahan dokumen, hingga berjuang meraih beasiswa.
Saat ini, pendidikan Irnawati didanai oleh beasiswa LPDP berkolaborasi dengan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama. Beasiswa ini mencakup biaya perkuliahan serta tunjangan hidup dan keluarga. Ia mengakui bahwa biaya hidup dan akomodasi tempat tinggal di Irlandia Utara terbilang cukup tinggi.
Meski regulasi di Britania Raya mengizinkan mahasiswa internasional bekerja paruh waktu hingga 20 jam per minggu, Irnawati memilih untuk fokus penuh pada riset akademik dan pengasuhan anak. Ia memandang perjalanan ini sebagai media pembelajaran langsung bagi anak-anaknya untuk melihat perjuangan orang tua dalam menuntut ilmu.
Di tengah kesibukan akademik dan domestik, Irnawati tetap aktif berkontribusi dalam persyarikatan. Ia terdaftar sebagai pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya periode 2026–2028. Aktivitas organisasi diikutinya secara hibrida, baik secara daring maupun menghadiri agenda penting secara langsung, seperti pelantikan pengurus di KBRI London.
Irnawati menempuh studi di Queen’s University Belfast, salah satu perguruan tinggi bereputasi yang masuk dalam jajaran Russell Group. Di kawasan tempatnya tinggal, terdapat pula beberapa kader dan dosen Muhammadiyah lain yang sedang menyelesaikan studi mereka di berbagai bidang, seperti kesehatan, bisnis, teknik, hingga ilmu sosial.
Menutup kisahnya, Irnawati mendorong kader-kader Muhammadiyah lainnya untuk tidak ragu melanjutkan studi ke luar negeri. Ia menyarankan para calon mahasiswa untuk mengenali karakter negara dan kampus tujuan secara mendalam melalui berbagai kanal digital dan pengalaman para alumni beasiswa.
