Kabar Persyarikatan

Kaderisasi Terhenti Jadi Ancaman Terbesar Kemunduran Cabang dan Ranting Muhammadiyah

Redaksi Baturmu
1 Oktober 20263 mnt baca
Kaderisasi Terhenti Jadi Ancaman Terbesar Kemunduran Cabang dan Ranting Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Kemunduran Muhammadiyah di tingkat Cabang dan Ranting dinilai bukan disebabkan oleh terhentinya pembangunan fisik, melainkan akibat mandeknya proses kaderisasi dan penanaman ideologi. Hal ini menjadi perhatian serius bagi keberlangsungkan gerakan persyarikatan ke depan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jamaluddin Ahmad, di Gedoeng Moehammadijah, Kota Yogyakarta, Senin (28/9).

Jamaluddin menjelaskan bahwa secara fisik, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) maupun masjid-masjid di tingkat Cabang dan Ranting masih berdiri kokoh dan tidak ada yang runtuh. Namun, potensi kemunduran justru mengintai ketika praktik ibadah di fasilitas tersebut bergeser dari Manhaj Tarjih.

Selain itu, ia menyoroti fenomena organisasi di tingkat Cabang dan Ranting yang secara struktur administrasi dan rapat-rapat masih berjalan, tetapi kepengurusannya hampir seluruhnya diisi oleh generasi tua.

“Ini juga bentuk keruntuhan, karena apa? Hampir tidak ada lagi daya tarik untuk anak muda. Muhammadiyah ada tapi runtuh. Tinggal orang-orang tua, anak muda hampir enggak ada yang tertarik,” ujar Jamaluddin.

Oleh karena itu, Jamaluddin menekankan pentingnya mengubah tolok ukur keberhasilan sebuah Cabang dan Ranting. Indikator keunggulan tidak boleh hanya dihitung berdasarkan banyaknya jumlah AUM, melainkan dari keaktifan kader serta keberlanjutan proses regenerasi di wilayah tersebut.

Ia juga mengingatkan agar kegiatan kaderisasi di tingkat akar rumput tidak diselenggarakan sekadar formalitas atau seremonial yang kering dari nilai-nilai substansial. Kaderisasi yang minim tempaan ideologi berisiko melahirkan kader yang lemah dalam perjuangan.

“Jangan hanya adanya ramai-ramai obyang-obyong dan sebagainya. Tetapi secara kaderisasi itu tidak melahirkan pejuang-pejuang yang memang memahami apa namanya perjuangan Muhammadiyah,” tegasnya.

Mengamati realitas yang ada saat ini, Jamaluddin menyimpulkan bahwa tantangan terbesar bagi keberlanjutan dakwah Muhammadiyah bukanlah stagnasi pembangunan fisik, melainkan terhentinya proses kaderisasi dan ideologisasi kader muda.

Bagikan artikel ini: