Ilmu atau Adab, Mana yang Harus Didahulukan? Ini Penjelasannya

BATURMU.COM, SURABAYA — Perdebatan mengenai mana yang harus didahulukan antara ilmu dan adab kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Irwan Hasan menjelaskan bahwa keduanya memiliki kedudukan penting, tetapi penggunaannya perlu ditempatkan sesuai konteks.
Hal itu disampaikan Irwan dalam program Ngasah di TVMu pada Kamis (01/10). Menurutnya, ilmu menjadi dasar seseorang dalam menjalankan kehidupan dan beramal. Karena itu, ketika seseorang hendak melakukan sesuatu, ilmu perlu didahulukan agar perbuatannya sesuai dengan tuntunan agama.
“Ilmu itu sebelum beramal. Kemudian ada ulama juga mengatakan, al-ilmu qabla al-qawl wal-‘amal. Ilmu itu sebelum kita berucap, sebelum kita berbuat, sebelum kita beramal, maka harus ada ilmunya dulu,” jelasnya.
Irwan mengaitkan pentingnya ilmu dengan perintah pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw., yakni iqra. Menurutnya, membaca merupakan bagian dari proses belajar. Al-Qur’an juga memberikan kedudukan khusus kepada orang-orang yang beriman dan berilmu.
Ia menyebut ilmu diperlukan agar seseorang dapat memahami Al-Qur’an, hadis, serta tuntunan ibadah dengan benar. Dalam konteks ibadah, misalnya, seseorang perlu mengetahui tata cara salat, bacaan, dan ketentuannya sebelum melaksanakannya.
“Kalau kita konteks kita salat, maka kita harus punya ilmu. Bagaimana takbirnya? Bagaimana bacaan salatnya? Maka ilmu yang didahulukan,” ujarnya.
Namun, ketika konteksnya adalah interaksi dengan orang lain, Irwan menekankan pentingnya mendahulukan adab. Ilmu yang dimiliki seseorang perlu disertai sikap yang baik agar tidak berubah menjadi kesombongan.
“Dalam konteks sosial, konteks berkomunikasi dengan audiens misalnya, maka kita dahulukan adab,” katanya.
Menurut Irwan, seseorang bisa saja memiliki pengetahuan yang luas, tetapi tanpa adab ilmu tersebut dapat membuatnya merasa paling mengetahui dan merendahkan orang lain. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan melahirkan sikap tawaduk.
Ia mencontohkan kehidupan bertetangga. Seseorang tidak dapat menggunakan alasan ibadah untuk melakukan sesuatu yang mengganggu hak orang lain. Dalam kasus penggunaan pengeras suara masjid yang terlalu keras, misalnya, semangat beribadah tetap perlu disertai perhatian terhadap kenyamanan masyarakat sekitar.
“Islam mengajarkan bagaimana kita beribadah ghairu mahdah, yaitu ibadah yang berhubungan dengan bermuamalah dengan sesama manusia, berinteraksi dengan sesama manusia dan tetangga,” jelasnya.
Irwan menegaskan bahwa hak seseorang dibatasi oleh hak orang lain. Karena itu, ketika aktivitas ibadah berpotensi mengganggu masyarakat sekitar, penyelesaiannya perlu dilakukan dengan cara yang baik.
Ia mengingatkan pentingnya menyampaikan nasihat dengan cara yang tepat. Kesalahan orang lain, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan adab ketika menegur.
“Meskipun kita benar, orang itu kita anggap salah dan memang salah, tetap kita menyelesaikannya, membantahnya, menasihatinya dengan cara-cara yang baik. Dan itulah akhlak,” tuturnya.
Lebih jauh, Irwan menjelaskan bahwa akhlak merupakan bagian penting dalam kesempurnaan iman. Ia mengutip hadis akmalul mu’minina imanan ahsanuhum khuluqan, bahwa kesempurnaan iman berkaitan dengan baiknya akhlak seseorang.
Ia juga mengutip QS Al-Qalam ayat 4 tentang Nabi Muhammad Saw., wa innaka la’ala khuluqin ‘azhim. Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan kedudukan akhlak dalam kepribadian Rasulullah Saw.
Dalam konteks menuntut ilmu, Irwan justru meminta agar adab ditempatkan di depan. Adab dalam belajar akan membuat ilmu yang diperoleh memberi perubahan pada diri, bukan membuat seseorang semakin sombong.
“Ketika kita konteksnya belajar, konteksnya taklim, konteksnya menuntut ilmu, maka yang kita dahulukan adalah adab. Karena dengan orang bertaklim mencari ilmu dengan adab yang baik, mendahulukan adab, maka lahirlah ilmu yang bermanfaat, ilmu yang barokah,” katanya.
Menurutnya, ilmu yang bermanfaat dapat dikenali dari perubahan sikap orang yang memilikinya. Semakin berilmu, seseorang semestinya semakin tawaduk, khusyuk, saleh, dan bertakwa kepada Allah Swt.
Karena itu, Irwan menyimpulkan bahwa ilmu dan adab tidak perlu dipertentangkan. Ilmu menjadi bekal ketika seseorang hendak beramal dan melakukan sesuatu, sedangkan adab perlu dikedepankan ketika berinteraksi dengan sesama dan ketika menuntut ilmu.
“Tempatkan ilmu ketika kita untuk beramal, untuk mengerjakan sesuatu, maka carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Dan tempatkan adab di kala kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama manusia. Termasuk di saat kita bertaklim ataupun menuntut ilmu, maka dahulukan adab,” pungkasnya.
