Busyro Muqoddas Sebut Kepercayaan Publik dan Budaya Kritis Jadi Modal Utama Muhammadiyah

BATURMU.COM, YOGYAKARTA — Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah berhasil merawat kepercayaan masyarakat sebagai modal sosial utama. Tingginya kepercayaan publik ini terlihat nyata dari terus meningkatnya jumlah peserta didik di sekolah-sekolah Muhammadiyah, rumah sakit Persyarikatan yang menjadi rujukan warga, hingga pesatnya penghimpunan dana umat melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu).
Kendati demikian, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menegaskan bahwa kebesaran Persyarikatan tidak hanya ditopang oleh kepercayaan masyarakat semata. Kekuatan Muhammadiyah justru juga lahir dari keterbukaan dan keluasan hati dalam menerima kritik dari internal organisasi.
Hal tersebut diungkapkan Busyro saat memberikan arahan dalam acara Apresiasi Buku Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaruan yang berlangsung di Aula Gedung Muhammadiyah, Rabu (30/9).
Busyro sangat mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Menurutnya, para penulis memanfaatkan pendekatan fenomenologi untuk membaca berbagai fenomena yang terjadi di tubuh Muhammadiyah selama 114 tahun. Kritik yang dihadirkan dinilai berbasis data dan diiringi tanggung jawab intelektual.
“Saya ingin mengapresiasi para penulis karena membaca dan memotivasi dengan pendekatan kritis,” ujar Busyro.
Bagi Busyro, karya ini bukan sekadar catatan ilmiah biasa, melainkan bukti hidup dari berjalannya kultur demokrasi di tubuh Persyarikatan. Kehadiran buku tersebut menunjukkan bahwa kader Muhammadiyah memiliki ruang yang luas untuk menyampaikan aspirasi, pemikiran, serta kritik konstruktif terhadap arah perjalanan organisasi.
Dalam kesempatan yang sama, editor buku, David Efendi, menjelaskan bahwa seluruh penulis yang berkontribusi dalam karya tersebut merupakan kader resmi Muhammadiyah.
“Hanya yang memiliki NBM yang diperkenankan menulis buku ini,” ungkap David.
Lebih lanjut, Busyro mengingatkan seluruh kader dan tokoh Persyarikatan untuk terus menjaga integritas di tengah tantangan sosial dan dinamika politik masa kini. Ia meminta para kader tetap istiqamah di jalur pengabdian dakwah serta mewaspadai godaan politik praktis atau kepentingan proyek tertentu yang berpotensi mengaburkan arah gerakan dakwah berkemajuan.
Bagi Muhammadiyah, lahirnya buku ini menjadi sinyal positif bahwa semangat pembaruan masih terus bergelora. Kritik yang disampaikan patut dipandang sebagai langkah merawat nalar kritis demi memperkokoh ikhtiar gerakan di masa depan.
