Kabar Persyarikatan

Abdul Mu'ti Tekankan Pemimpin Pendidikan Muhammadiyah Harus Luas, Luwes, dan Adaptif

Redaksi Baturmu
30 September 20263 mnt baca
Abdul Mu'ti Tekankan Pemimpin Pendidikan Muhammadiyah Harus Luas, Luwes, dan Adaptif

BATURMU.COM, DEPOK — Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mendorong para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah untuk menjadi figur pemimpin yang berwawasan luas, luwes, serta adaptif dalam menghadapi perkembangan zaman.

Menurut Mu’ti, kepemimpinan di lembaga pendidikan tidak cukup bila hanya mengandalkan wewenang dan jabatan semata. Lebih dari itu, dibutuhkan ikhtiar berkelanjutan untuk terus belajar, memperluas jejaring, serta cepat beradaptasi dengan berbagai perubahan.

"Pemimpin yang fleksibel adalah pemimpin yang sukses. Pemimpin tidak boleh lemas, tapi harus adaptif," tegas Mu’ti pada kegiatan yang berlangsung di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata Depok, Jawa Barat, Rabu (30/9).

Merujuk pada pemikiran almarhum Prof. Malik Fadjar, Mu’ti menerangkan makna kata "luas" sebagai keterbukaan wawasan terhadap ragam pengetahuan dan pengalaman baru. Sementara kata "luwes" dimaknai sebagai sikap yang tidak kaku dalam menyelesaikan persoalan serta mampu menyesuaikan diri dengan situasi.

Dalam kesempatan tersebut, Mu’ti juga menggarisbawahi pentingnya menumbuhkan budaya belajar bagi para pengelola sekolah dan madrasah. Kemampuan menyerap praktik-praktik baik dari berbagai sumber dinilai dapat melahirkan inovasi baru melalui proses modifikasi yang sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing.

Mengenai sebuah kegagalan, Mu’ti mengingatkan agar hal itu tidak dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Sebaliknya, kegagalan mesti dijadikan bahan evaluasi dan refleksi untuk menentukan langkah perbaikan di masa mendatang.

Lebih jauh, ia menyoroti bahwa visi sekolah tidak boleh sekadar menjadi slogan tertulis dalam dokumen, melainkan harus diturunkan menjadi target dan langkah konkret. Lembaga pendidikan Muhammadiyah dituntut memiliki keunggulan serta ciri khas tersendiri yang ditopang oleh keberanian mengambil risiko dan semangat pembaruan (tajdid).

"Sekolah dan madrasah Muhammadiyah harus punya ciri khas dan keunggulan yang dibangun melalui kepemimpinan yang memiliki visi, keberanian mengambil risiko, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus belajar," ungkapnya.

Di samping aspek akademik dan kepemimpinan, Mu’ti mengingatkan pentingnya merawat identitas dan tradisi kedermawanan warga Muhammadiyah. Semangat berbagi dan kepedulian sosial perlu terus dibiasakan di lingkungan sekolah, salah antaranya dengan mendukung gerakan filantropi melalui Lazismu.

Ia menekankan bahwa keunggulan pendidikan Muhammadiyah tidak hanya diukur dari capain prestasi akademik semata, tetapi juga dari pembentukan karakter, kepedulian, keteladanan, serta kontribusi sosial yang nyata bagi masyarakat.

Bagikan artikel ini: