Di antara deretan organisasi otonom Muhammadiyah, ada satu yang tampil beda dengan seragam merah menyala dan gerakan yang tangkas. Ia adalah Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Bukan sekadar perguruan silat biasa, Tapak Suci adalah wadah di mana seni budaya, olahraga, dan dakwah Islam melebur menjadi satu kekuatan karakter.
Sejarah: Menyatukan Aliran, Membersihkan Akidah
Tapak Suci lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 31 Juli 1963 (10 Rabiul Awal 1383 H). Kelahirannya dipelopori oleh para pendekar Kauman seperti M. Barie Irsjad, yang ingin menyatukan berbagai aliran silat yang ada di Kauman (seperti Cikauman, Seranoman, dan Kasegu) ke dalam satu wadah organisasi yang tertib.
Namun, misi utamanya lebih dari itu. Pada masa lalu, dunia persilatan sering dikaitkan dengan hal-hal mistis, klenik, dan syirik. Tapak Suci hadir untuk melakukan “pemurnian”. Mereka mengajarkan bela diri yang rasional, mengandalkan teknik olah tubuh dan napas, serta—yang terpenting—bersih dari segala ritual yang bertentangan dengan aqidah Islam. Inilah yang membuat Tapak Suci sering disebut sebagai “Silat Tauhid”.
Filosofi Sang Pendekar
Jiwa seorang kader Tapak Suci terangkum dalam ikrar dan moto legendaris yang selalu diucapkan di setiap latihan:
“Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah.”
Kalimat ini bukan sekadar slogan. Ia adalah pengingat bahwa kekuatan fisik setinggi apa pun akan runtuh jika tidak ditopang oleh fondasi spiritual dan moralitas. Seorang pendekar Tapak Suci dilarang sombong, mencari musuh, atau menyalahgunakan ilmunya.
Seragam Merah dan Sabuk Melati
Identitas visual Tapak Suci sangat ikonik.
- Seragam Merah: Melambangkan keberanian dalam kebenaran.
- Garis Tepi Kuning: Melambangkan kesucian hati.
- Senjata Khas: Senjata yang menjadi ciri khasnya adalah Segu (Serba Guna), sebuah senjata unik ciptaan Pendekar Besar M. Barie Irsjad.
Sistem tingkatan sabuknya pun unik, tidak menggunakan warna (seperti putih-kuning-hijau-biru), melainkan menggunakan dasar kuning dengan melati (bunga) berwarna cokelat, merah, hingga hitam untuk menandakan jenjang siswa hingga pendekar.
Prestasi yang “Mendunia”
Sesuai dengan visi Islam Berkemajuan, Tapak Suci tidak hanya jago kandang. Perguruan ini telah melahirkan ribuan atlet pencak silat yang mengharumkan nama Indonesia di ajang SEA Games, Asian Games, hingga Kejuaraan Dunia.
Lebih hebatnya lagi, Tapak Suci kini telah menyebar ke mancanegara. Cabang latihan Tapak Suci dapat ditemukan di Belanda, Jerman, Mesir, hingga Sudan. Di sana, warga asing berlatih silat sambil mengenal nilai-nilai Islam yang damai dan disiplin melalui gerakan Tapak Suci.
Penutup
Tapak Suci Putera Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah tidak melulu harus di atas mimbar. Melalui gerakan jurus yang indah dan mematikan, serta disiplin yang baja, Tapak Suci terus mencetak “Pendekar Muslim” yang siap membela agama, bangsa, dan negara, serta menjaga warisan budaya luhur Nusantara.






