Jika Pemuda Muhammadiyah adalah para ksatria dan Nasyiah adalah srikandi muda, maka Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) adalah bibit-bibit unggul yang sedang disemai. Sebagai organisasi otonom yang mewadahi pelajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah maupun umum, IPM adalah “kawah candradimuka” pertama bagi kader persyarikatan.
Di sinilah nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan pertama kali ditanamkan secara terorganisir kepada remaja usia sekolah.
Sejarah: Kemenangan Idealisme Pelajar
IPM lahir di Surakarta pada 18 Juli 1961 (5 Safar 1381 H). Kelahirannya tidak mudah; sempat ada perdebatan apakah pelajar perlu wadah sendiri terpisah dari Pemuda Muhammadiyah. Namun, para pendiri menyadari bahwa dunia pelajar memiliki dinamika, psikologi, dan tantangan yang unik yang tidak bisa disamakan dengan pemuda dewasa.
Akhirnya, IPM berdiri tegak dengan misi utama: berdakwah di kalangan pelajar. Sempat berganti nama menjadi IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) karena kebijakan Orde Baru yang melarang kata “Pelajar” untuk organisasi massa, namun kembali menjadi IPM pasca-reformasi, menegaskan identitasnya sebagai gerakan kaum terpelajar.
Filosofi “Pena” dan Semangat Literasi
Identitas IPM sangat unik dan intelektual. Lambangnya berbentuk perisai dengan gambar Pena di tengahnya. Ini merujuk pada ayat Al-Qur’an yang menjadi semboyan abadi mereka: “Nuun Wal Qalami Wama Yasthurun” (Demi pena dan apa yang dituliskannya).
Filosofi ini menjadikan IPM sebagai organisasi yang sangat menjunjung tinggi tradisi literasi (baca-tulis). Di IPM, pelajar tidak hanya diajarkan berorganisasi, tapi didorong untuk menulis, diskusi, bedah buku, dan berkarya. Tak heran jika IPM sering disebut sebagai rumahnya pelajar kreatif dan intelektual.
Doktrin 3T (Tertib)
Setiap kader IPM memegang teguh trilogi semboyan yang menyeimbangkan kehidupan mereka, yaitu 3T:
- Tertib Ibadah: Seorang kader IPM harus menjadi teladan dalam shalat dan akhlak agamanya.
- Tertib Belajar: Aktif organisasi bukan alasan nilai akademik jeblok. Kader IPM harus unggul di kelas.
- Tertib Organisasi: Memiliki kedisiplinan dan manajemen waktu yang baik dalam memimpin.
Prestasi: Organisasi Pemuda Terbaik Nasional
Jangan anggap remeh gerakan “anak sekolah” ini. IPM telah berkali-kali dinobatkan sebagai Organisasi Kepemudaan (OKP) Terbaik Nasional oleh Pemerintah Indonesia. Bahkan, mereka pernah menerima penghargaan ASEAN TAYO (Ten Accomplished Youth Organizations) Award, sebuah pengakuan tingkat Asia Tenggara.
Prestasi ini diraih karena konsistensi IPM dalam isu-isu advokasi pelajar, seperti kampanye anti-kekerasan di sekolah (anti-tawuran), anti-narkoba, dan gerakan lingkungan hidup yang dikemas dengan gaya anak muda kekinian.
Penutup
Ikatan Pelajar Muhammadiyah adalah bukti bahwa masa remaja bukanlah masa untuk hura-hura semata. Di tangan IPM, masa remaja diubah menjadi masa penempaan diri. Mereka adalah pemilik pena emas yang kelak akan menuliskan sejarah masa depan Indonesia yang lebih cerah, damai, dan berkemajuan.






