Di lapangan hijau, di tengah barisan berseragam khaki dengan setangan leher hijau-kuning, semangat patriotisme itu terus menyala. Mereka adalah Hizbul Wathan (HW), gerakan kepanduan milik Muhammadiyah yang namanya memiliki arti gagah: “Pembela Tanah Air”.
Berbeda dengan gerakan kepanduan lain, HW memiliki DNA sejarah yang unik: ia adalah tempat lahirnya para pejuang kemerdekaan, termasuk Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Sejarah: Terinspirasi dari Semangat Kedisiplinan
HW didirikan jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1918 di Yogyakarta. Awalnya, gerakan ini bernama Padvinder Muhammadiyah.
Kisah berdirinya bermula ketika pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, pulang dari pengajian di Solo. Di sana, beliau melihat latihan baris-berbaris anak-anak muda Javansche Padvinders Organisatie (JPO) di alun-alun Mangkunegaran. Terkesan dengan kedisiplinan dan kegagahan mereka, K.H. Ahmad Dahlan berniat mendirikan wadah serupa untuk anak-anak Muhammadiyah agar memiliki fisik yang sehat, disiplin, dan cinta tanah air untuk mengabdi kepada Allah.
Jenderal Soedirman: Sang Bapak Pandu
Berbicara tentang HW tidak lengkap tanpa menyebut nama Jenderal Soedirman. Sebelum menjadi Panglima Besar TNI pertama, Soedirman muda adalah seorang kader, guru, dan pemimpin (Hizbul Wathan) yang aktif di Cilacap.
Nilai-nilai kepanduan HW—seperti disiplin, kesederhanaan, pantang menyerah, dan “sedikit bicara banyak bekerja”—sangat mewarnai gaya kepemimpinan militer Soedirman saat memimpin perang gerilya melawan penjajah. Bagi HW, Soedirman bukan hanya pahlawan nasional, tapi juga “Bapak Pandu HW” yang menjadi teladan abadi.
Pasang Surut: Mati Suri dan Kebangkitan Kembali
Perjalanan HW sempat mengalami “tidur panjang”. Pada tahun 1961, Presiden Soekarno melebur seluruh gerakan kepanduan di Indonesia (termasuk HW) menjadi satu wadah tunggal, yaitu Pramuka. Selama puluhan tahun, nama HW hilang dari peredaran resmi, meski semangatnya tetap hidup di hati warga Muhammadiyah.
Namun, semangat reformasi membawa angin segar. Pada tahun 1999, Pimpinan Pusat Muhammadiyah membangkitkan kembali Hizbul Wathan sebagai organisasi otonom. “Sang Pembela Tanah Air” telah bangun dari tidur panjangnya untuk kembali mencetak kader bangsa.
Jatidiri: Menyenangkan dan Menantang
Hizbul Wathan memiliki metode pendidikan yang khas, yaitu Bermain, Bernyanyi, dan Bercerita, namun tetap dalam koridor Islam.
- Seragam: HW identik dengan seragam khaki tua dan biru tua, serta hasduk (setangan leher) berwarna hijau dengan garis kuning yang melambangkan harapan dan kemakmuran.
- Undang-Undang HW: Pandu HW dikenal santun, hormat kepada orang tua, penyayang sesama makhluk, dan dapat dipercaya.
Kegiatan HW selalu dirancang di alam terbuka (outbound), menantang fisik dan mental, untuk membentuk karakter yang mandiri, tidak cengeng, dan siap menolong sesama (filantropi).
Penutup
Hizbul Wathan hadir bukan sekadar sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Ia adalah kawah candradimuka bagi tunas-tunas muda Islam untuk menjadi “Perwira” di masa depan—yang gagah berani membela kebenaran, taat beribadah, dan setia membela tanah air Indonesia.






